“Brigez”, Dari Geng Motor, Menuju Organisasi Kepemudaan


ANGGOTA Brigez berfoto di depan basecamp jalan RE Martadinatha, Bandung, Minggu (11/7/2010).

WARGA Kota Bandung tentunya sudah tidak asing mendengar nama geng motor. Bagaimana tidak, selama beberapa tahun ini, kelompok tersebut kerap berbuat keonaran dan seringkali terlibat dalam berbagai aksi kriminalitas yang meresahkan.

Seperti yang kita ketahui, kasus kejahatan geng motor mulai mencuat dan menjadi sorotan publik sejak tahun 2007 yang lalu. Terlebih lagi, saat terbongkarnya video kekerasan yang diperagakan oleh beberapa anggota senior kepada junior.

Sejak saat itu, paradigma negatif masyarakat atas keberadaan kelompok ini terus bermunculan. Penolakan akan kehadiran geng motor di tengah masyarakat pun tidak dapat terhindarkan. Tidak hanya di Bandung, kasus kekejaman geng motor ini bahkan menggegerkan hampir seluruh wilayah di Indonesia.

Namun, belakangan ini pergerakan empat geng motor, yaitu Brigez, Moonraker, GBR (Grab on Road) dan XTC (Exalt to Coitus) tampak mulai melunak. Tidak hanya itu, walaupun sempat menjadi bahan perburuan aparat penegak hukum, saat ini, keberadaan geng motor tersebut bahkan telah dilegalkan.

Brigez misalnya. Salah satu organisasi yang sempat masuk dalam catatan hitam aparat kepolisian ini, kini mencoba merubah haluannya menjadi sebuah Organisasi Kepemudaan (OKP).

“Kita melihat banyak saudara kita yang terjerumus dalam hal negatif, dan banyak juga yang meninggal. Dari sana awal kita bercermin. Ya mungkin ada titik kejenuhan dari angkatan kami, semuanya untuk kebaikan adik-adik kita juga,” kata Ivan ‘Udel’ Andita (29), ketua Brigez Kodya Bandung, saat ditemui di sekertariat Brigez, jalan RE Martadinata, Bandung, Minggu (11/7/2010).

Ia mengatakan, ide awal untuk merubah Brigez menjadi OKP tercetus ketika pelaksanaan Jambore Brigez pada awal Januari 2010. Atas kesepakatan bersama, sejak saat itu dewan kepengurusan Brigez terus berupaya melakukan koordinasi dengan berbagai kalangan dan membuat Aturan Dasar Rumah Tangga (ADART).

Upaya tersebut ternyata cukup berhasil. Hingga saat ini, Brigez telah memiliki akta resmi sebagai legalitas organisasi. “Prosesnya sudah berjalan lancar. Hanya sekitar 20 persen lagi Brigez resmi menjadi OKP. Setelah itu, kita akan mendeklarasikan pada hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober nanti,” ucapnya.

Ubah Stigma Negatif

Tidak mudah untuk dapat mengubah pandangan negatif masyarakat atas keberadaan Brigez yang terlanjur telah tercemar. “Hambatannya ada saja. Soalnya pengaruh Brigez sebelumnya itu identik dengan tukang tawuran. Tapi saya bersyukur, sekarang dari masyarakat maupun kepolisian sudah banyak yang mau mendukung aksi positif Brigez,” kata Ivan.

Hal senada diungkapkan oleh koordinator Kaderisasi dan Hubungan Antar Lembaga Brigez, Abram Fedrik Manurung (26). Menurut dia, kendala terbesar yang dihadapi untuk menggembalikan citra Brigez sebagai organisasi positif, justru banyak muncul dari oknum internal.

“Jadi yang kita perangin sekarang bukan club motor lagi, tapi oknum dalam tubuh Brigez itu sendiri. Sayang sekali kan, satu himpunan kekeluargaan yang besar dan solid dalam Brigez dirusak oleh sebagian oknum,” ungkapnya.

Sebagai upaya pencegahan akan semakin meluasnya oknum internal, Bram mengatakan, saat ini Brigez memperketat tata tertib dan penyaringan anggota. Untuk dapat memasuki organisasi kepemudaan ini, setiap anggota wajib memiliki tanda pengenal berupa member card (kartu anggota) yang dapat diperoleh setelah mendata Kartu Tanda Penduduk (KTP).

“Kita nggak menutupi, sekarang banyak adik kita yang masih SMP ingin ikut gabung. Kita bukan membuang, tapi mencegah dulu. Bagi mereka yang masih liar, kita akan bina dulu sampai jati dirinya keluar. Setelah mendapat pemahaman, baru akan kita pertimbangkan untuk bisa masuk anggota,” kata Bram.

Ragam Aktifitas Baru

Untuk mewujudkan misinya sebagai suatu organisasi kepemudaan, tentunya harus didukung dengan beragam bentuk kegiatan yang sesuai di bidangnya. Sama seperti di organisasi kepemudaan lainnya, menurut Ivan, OKP Brigez akan memfokuskan diri pada kegiatan kepemudaan yang mengarah ke berbagai hal positif.

Hal tersebut sempat terrealisasikan melalui beberapa kegiatan bakti sosial. Seperti kegiatan Brigez cabang Tasikmalaya yang membantu proses pembangunan masjid. Selain itu, Brigez cabang Gedebage melakukan kegiatan sosial dengan membagikan sembako pada warga sekitar.

Lebih lanjut ia memaparkan, para anggota Brigez akan diberikan suatu ruang gerak berupa penyaluran minat dan bakat. “Misalnya buat yang hobi balap motor, kita akan salurkan ke bidang otomotif. Bidang musik juga demikian. Bahkan buat yang hobi tawuran, kita juga salurin ke olahraga bela diri.  Sekarang yang sudah mulai intensif itu Boxer, bisa di cek disini setiap hari Senin dan Kamis,” paparnya.

Selain itu, dalam waktu dekat ini, Brigez berencana akan melakukan sosialisasi dan bakti sosial ke warga daerah jalan PSM, Kiaracondong, Bandung. Selain untuk untuk menyambut hari kemerdekaan Indonesia, kegiatan yang akan dilaksanakan pada 7 Agustus 2010 ini, bertujuan untuk mengubah citra negatif masyarakat atas keberadaan kelompok ini.

Kegiatan tesebut cukup mendapat apresiasi yang cukup positif dari warga sekitar. “Yang namanya orang mau berbuat kebaikan, ya kenapa nggak? Saya menyambut baik niat anggota Brigez untuk memulihkan pencitraan melalui penyuluhan dan bakti sosial ini,” ucap Dodi Suryadi, salah satu tokoh masyarakat daerah setempat, yang juga menjabat sebagai Ketua Pemuda Pancasila Pimpinan Anak Cabang (PP-PAC) kecamatan Batununggal, Kiaracondong.

Dodi mengharapkan agar kegiatan semacam ini dapat dicontoh oleh geng motor lain. Selain itu, adanya kegiatan ini dinilai dapat menekan tindak kriminalitas yang dilakukan oleh geng motor.

“Saya mengharapkan yang namanya geng-geng itu seperti begini lah. Jangan hanya bisa berbuat hal-hal negatif yang meresahkan masyarakat. Kita kembali lagi ke jalan yang benar,” katanya. ***

Albiansyah

 

Menggalang Perdamaian

TIDAK mudah untuk mendamaikan keberadaan empat geng motor besar yang ada di kota Bandung. Pasalnya, selama belasan tahun keempat kelompok ini dikenal selalu bertikai satu sama lain.

Imbas dari adanya pertikaian tersebut pun seringkali menimbulkan kerugian yang cukup serius. Mulai dari pengerusakan fasilitas umum, hingga timbulnya korban jiwa baik dari pihak geng motor itu sendiri mau pun masyarakat awam yang jadi korban salah sasaran.

“Kami pun tidak munafik bahwa selama ini terjadi perang. Awal keributan itu mah mungkin permasalahan ego masing-masing. Kita sama-sama biasa hidup di jalan, jadi sering berbenturan sama yang lain,” ujar Ivan.

Namun tanpa diduga, pada 12 Juni 2010, ribuan anggota Brigez menggelar aksi damai yang diwujudkan secara simbolis dengan membagi-bagikan bunga kepada warga dan organisasi motor lain. Tidak tanggung-tanggung, aksi tersebut mendapat dukungan dari aparat kepolisian Kota Bandung.

Ivan mengatakan, hingga saat ini, secara intensif pihaknya bersama organisasi motor lain kerap melakukan pertemuan melalui mediasi dari Polrestabes Bandung. Bahkan dengan organisasi Moonraker, upaya rekonsiliasi yang dilakukan telah berjalan cukup baik.

“Kita punya komitmen untuk menjaga silaturahmi dengan organisasi lain. Tapi perlu digarisbawahi, damai disini bukan berarti menyatu. Kita tetep beda menejmen. Damai disini dalam arti tidak akan ada lagi bentrokan di jalan,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan oleh Bram. Menurutnya, ajakan damai tersebut tidak hanya ditujukan kepada tiga organisasi motor lain yang sempat bersitegang, akan tetapi juga dengan seluruh organisasi yang ada di Kota Bandung.

“Secara jujur, sebagai kepengurusan kami juga butuh media untuk mengungkapkan perasaan Brigez, bahwa kita sudah mau positif dan berdamai dengan semua organsasi. Kalau misalnya ada anggota yang tetep tidak mau mengikuti jalur kita, dari kita sendiri ada ketegasan. Kita juga mau menunjukan bahwa kita bisa seperti orang lain dan meraih prestasi yang besar,” ungkapnya. ***

Albiansyah

Konsep Baru Aparat Kepolisian

JIKA semula polisi melakukan tindakan yang cenderung preventif dan represif dalam menangani geng motor, kali ini, aparat kepolisian melakukan pendekatan alternatif bersifat persuasif. Tindakan tersebut merupakan sebuah terobosan dari upaya untuk menekan angka gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat akibat adanya geng motor.

“Kepolisian itu dalam memberantas tidak harus selalu menghantam, tapi ada semacam peniadaan perilaku. Kita coba untuk menggiring mereka agar bisa berbuat baik dengan menghilangkan perilaku negatif tadi,” ujar AKBP Bahtiar Ujang Purnama S.Ik., M.Si, Kasat Intel Polrestabes Bandung, saat ditemui di kantornya, Jumat (16/7/2010).

Namun sayang, dalam kenyataannya, masih ada sebagian anggota geng motor yang terbukti melakukan tindak kriminal. Seperti kasus pengerusakan pada warnet, minimarket serta beberapa fasilitas umum lain yang terjadi pada hari Sabtu (10/7/2010) yang lalu.

“Jadi gini, kami melakukan upaya itu baru-baru ini. Konsep baru tentu tidak langsung matang begitu saja. Juga memerlukan proses,” kata Bahtiar. “Ya mungkin sejauh ini ada kemajuan, setidaknya mereka sudah mau duduk bersama. Nah, seandainya ada kejadian pengerusakan seperti kemarin, dari temen-temen yang diduga kelompok itu ya ikut membantu mencari pelaku juga,” katanya meneruskan.

Walau belum sepenuhnya maksimal, namun, konsep baru yang diusung pihak kepolisian untuk merangkul geng motor tampaknya cukup membuahkan hasil. Hal tersebut dapat terlihat dari data penurunan tingkat kriminalitas akibat geng motor dalam beberapa waktu belakangan ini.

Bahtiar mengatakan, walaupun saat ini kepolisian sudah memberikan legalitas, namun pihaknya terus melakukan pemantauan dan pembinaan terhadap empat club motor tersebut di lapangan. Selain itu, dilakukan juga pertemuan intensif yang bertujuan untuk meredam adanya gesekan antara satu dengan yang lain.

“Kita fair aja. Kalau mereka melakukan tindakan positif, kita beri apresiasi. Tapi kalau mereka melakukan tindakan negatif, kita tidak segan-segan untuk melakukan tindakan hukum. Tidak akan kita lepas begitu saja,” ucapnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, untuk kedepannya kepolisian akan membuat fasilitas berupa sekertariat bersama yang berfungsi sebagai ruang mediasi. “Jadi kalau ada masalah, tidak perlu lagi cerita di markas mereka masing-masing. Cerita di sekertariat itu, supaya masalah tidak berlarut-larut dan bisa diselesaikan bersama,” tuturnya.*****

Albiansyah

About these ads

11 responses to ““Brigez”, Dari Geng Motor, Menuju Organisasi Kepemudaan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s